Ijarah

a.     Ijarah adalah akad antara Bank (Muajjir = yang menye-wakan) dengan nasabah (Musta’jir) sebagai penyewa suatu barang milik Bank dan Bank mendapatkan imbalan jasa atas barang yang disewakannya. Obyek kontrak dalam Ijarah adalah manfaat dari penggunaan asset, bukan asset itu sendiri.

b.     Apabila nasabah/penyewa diberi opsi untuk memiliki barang yang disewakan tersebut pada saat sewa selesai, kontrak ini disebut al-Ijarah wa Iqtina’ atau al-Ijarah Mutahiyah bi Tamlik dimana akad sewa yang terjadi antara Bank (sebagai pemilik barang) dengan nasabah (sebagai penyewa) dengan cicilan sewanya sudah termasuk cicilan pokok harga barang.

     Landasan Syariah Ijarah

o   وَاِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْـتَرْضِـعُوْا أَوْ لاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْـتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِ، وَاتَّقُوا الله، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ بِمَا تَعْلَمُونَ بَصِيْرٌ (البقرة : 233)

     “….Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.  Ber-taqwalah kepada Allah; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2] 233).

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ، إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيّ الأَمِيْنُ (القصص: 26)

     Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”(QS. Al-Qashash [28[:26).

o   أَعْطُوا اْلأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ (رواه الجماعة

     Berikanlah upah pekerja sebelum keringat-nya kering.

o   مَنِ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَلْيُعْلِمْهُ أَجْرَهُ (رواه عبد الرزّق(

     “Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.”

o   كُنَّا نُكْرِي الأَرْضَ بِمَا عَلَى السَّوَاقِي مِنَ الزَّرْعِ وَمَا سَعَدَ بِالْمَاءِ مِنْهَا، فَنَهَانَا رَسُولُ اللهِ صلّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَالِكَ وَأَمَرَنَا أَنْ نُكْرِيَهَا بِذَهَبٍ اَوْ فِضَّـةٍ   (رواه ابو داود(

e.     Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya; maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.”