Jumat, Desember 14, 2018
   
Text Size

Pencarian

Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)


GHAZWUL FIKRI

Oleh: Didin Hafidhuddin - Jum'at 06 Januari 2017
بسم الله الرحمن الرحيم


1. Ghazwul fikri adalah perang pemikiran yang dilakukan oleh orang atau kelompok orang/organisasi atau Negara yang tidak senang dengan kemajuan dan kebangkitan umat Islam. Tidak ingin pula umat Islam berpegang teguh pada ajaran agamanya secara istiqomah dan konsisten dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 208, juga firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat [49] ayat 15.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS.Al-Hujurat [49]: 15).

2. Ghazwul fikri ini dilakukan dengan melalui berbagai macam cara seperti media elektronik maupun cetak (surat kabar, buku, jurnal, medsos, televisi, dan lainlain) untuk mempengaruhi cara berfikir dan cara berperilaku umat Islam, sehingga jauh bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Diantara ghazwul fikri ini dalam bentuk pemikiran: SEKULARISME, PLURALISME, LIBERALISME (AGAMA). Ketiga paham ini sudah dinyatakan sesat dan menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya No. 7/2005. Fatwa MUI ini dihasilkan melalui musyawarah para alim ulama, yang memiliki keahlian dalam berbagai macam bidang, seperti tafsir, hadits, bahasa Arab, fiqh, ushul fiqh, perbandingan madzhab, sejarah kebudayaan Islam, dan ilmu-ilmu lainnya, sehingga tidak perlu diragukan lagi keabsahan fatwanya.

3. Berikut disampaikan fatwa MUI No.7/2005 sebagai berikut:
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :
1) Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan 2 hidup berdampingan di surga. Pemikiran ini bertentangan antara lain dengan QS. Al-Baqarah [2] ayat 24-25.
2) Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan (pluralitas dibolehkan, sedangkan pluralisme dilarang).
3) Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yangg bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata (karenanya paham ini mengantarkan orang pada keyakinan tidak adanya hari akhirat, karena dianggap tidak sesuai dengan akal manusia).
4) Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hu-bungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial (agama tidak boleh dibawa pada kehidupan, seperti ekonomi, pendidikan, pergaulan, politik, dan lain-lain).

Ketentuan Hukum
1) Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud padabagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
2) Umat Islam haram mengikuti paham pluralism, sekularisme dan liberalisme agama.
3) Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif dan tegas, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain (seperti natalan).
4) Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan (dan tidak boleh berkaitan dengan akidah dan ibadah).

4. Penjelasan:
Sekularisme agama adalah memisahkan agama (Islam) dalam kehidupan. Agama hanya dalam urusan pribadi dan hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya. Dalam pandangan Islam, sekularisme ini jelas SALAH dan BATHIL, karena Islam itu bersifat kaffah (menyeluruh) harus ada pada setiap bidang kehidupan. Contoh-contoh sebagai berikut:
a) Amal saleh dalam seluruh aspek kehidupan
à QS. An-Nahl [16] ayat 97
b) Perintah salat dan amar makruf
à QS. Luqman [31] ayat 15
c) Pernikahan
à QS. Al-Baqarah [2] ayat 221
d) Ekonomi
à QS. Al-Baqarah [2] ayat 275-276
e) Kepemimpinan
à QS. Al-Ma’idah [5] ayat 58


والله أعلم بالَوا

 

Idul FItri 1439 H

idul-fitri-1439-h

infosehari